Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 %, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 cm. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 cm disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan2 organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob.
Berdasarkan ketebalannya, gambut dibedakan menjadi empat tipe :
- Gambut Dangkal, dengan ketebalan 0.5 – 1.0 m
- Gambut Sedang, memiliki ketebalan 1.0 – 2.0 m
- Gambut Dalam, dengan ketebalan 2.0 – 3.0 m
- Gambut Sangat Dalam, yang memiliki ketebalan melebihi 3.0 m
Selanjutnya berdasarkan kematangannya, gambut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
- Fibrik, digolongkan demikian apabila bahan vegetatif aslinya masih dapat diidentifikasikan atau telah sedikit mengalami dekomposisi
- Hemik, disebut demikian apabila tingkat dekomposisinya sedang
- Saprik, merupakan penggolongan terakhir yang apabila telah mengalami tingkat dekomposisi lanjut.
Tanah Gambut secara umumnya memiliki kadar pH yang rendah, memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, memiliki kandungan unsur K, Ca, Mg, P yang rendah dan juga memiliki kandungan unsur mikro (seperti Cu, Zn, Mn serta B) yang rendah pula.


ArZ_90 berkata,
Desember 17, 2007 @ 1:14 pm
kan gambut sebenernya bisa dibuat jadi energi alternatif pengganti minyak bumi (menurut sumber yang saya baca sih). terus, gimana caranya kok gambut bisa dipake jadi minyak? soalnya menurut sumber, endapan gambut yang dibuat pengganti itu bukan berupa minyak. nah, terus gimana? sedangkan sekarang katanya ada masalah tentang kebakaran gara-gara ladang gambut. kenapa kok nggak mengkaji ulang gambut sebagai energi alternatif daripada kebuang kebakar gitu….
ade mulyanan berkata,
Maret 29, 2008 @ 3:54 pm
saat ini perlu dilakukan pengkajian ulang atas beberapa usaha untuk pemanfaatan lahan gambut, khuhusnya untuk bidang pertanian. semuanya harus diperhitungkan secara matang agar tidak terjadi kegagalan yang mengakibatkan hal yang mubadzir seperti proyek lahan gambut sejuta hektar pada masa orde baru. kita harus sadar bahwa potensi lahan gambut negara kita tidak diragukan, terlebih untuk usaha pertanian. namun yang haruis kita pahami bersama pula, bahwa pemanfaatan gambut harus melibatkan banyak faktor, terlebih lagi faktor yang behubungan langsung dengan aspek ekologi dan sosial ekonomi. salah perhitungan dan pengkajian pada lahan gambut, maka proyek gagal pada masa orde baru akan terulang kembali. hal ini harus ditunjang dengan teknologi yang tepat guna serta partisipasi semua pihak, karena permasalahan gambut tidak bisa hanya digunakan sebagai proyek-proyek yang dapat menguntungkn bagi sebagian pihak saja, namun semua hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup akan selelu menembus batas sosial…lingkungan rusak—–>sosial rusak—–>suksesi.
syarifmawahib berkata,
April 12, 2008 @ 4:23 am
terima kasih atas komentar yang sangat bagus dari pak ade.
saya sangat setuju sekali dengan bapak, pada saat ini kesadaran untuk menjaga lingkungan belum bener-benar dari hati yang paling dalam secara tulus melainkan banyak yang digunakan sebagai alat dalam mencari perhatian orang lain..ya hanya menguntungkan seseorang saja. mudah-mudahan dengan akibat yang kita rasakan sekarang semua orang memahami arti penting dalam menjaga lingkungan kita
angga berkata,
April 15, 2008 @ 2:14 pm
apakah 3 variasi kematangan dan 4 variasi ketebalan bisa terjadi kombinasi. apakah gambut yang dangkal itu bisa saja saprik atau malah fibrik?
Sigit berkata,
Juni 6, 2008 @ 8:56 am
Gambut dapat diolah menjadi lahan yang sangat subur sehingga tidak kurang dari 20 jenis tanaman dapat dikembangkan di atas lahan gambut. Lahan gambut dapat diusahakan sebagai “sustainable agriculture” yang profitable tetapi ramah terhadap lingkungan. Kalau ingin membuktikan datang ke BPTP Kalbar karena kebetulan lokasi di atas lahan gambut dan di sekitarnya ada usahatani pada lahan gambut yang kami sebutkan. Kami siap jadi “guide” kok, gratis lagi. Utusan dari 27 negara peserta Konfrensi Gambut tahun 1987 yang mengunjungi lokasi ini juga manggut-manggut. kagum!! Lalu kenapa ada “tragedi gambut” di Kalteng. Menurut kami pada waktu itu sudah punya uang tetapi tidak punya ilmunya. Bayangkan saja membuka lahan gambut dengan membangun kanal selebar belasan meter dan dalam beberapa meter. Akibatnya, gambut ini seperti diperas sisanya bahan organik kering yang mudah terbakar. Tidak usah dibakar, lemparkan saja puntung rokok maka sudah dapat menimbulkan kebakaran hebat. Ada penelitian yang sudah dilakukan bahwa untuk memadamkan kebakaran gambut seluas 20 meter diperlukan air 5.000 liter karena gambutnya dalam. Bayangkan kalau kebakaran gambut melanda kawasan seluas sejuta hektar?? Jadilah sekarang PLG ini menjadi “Laboratorium Alam Terbesar Di Dunia mengenai Pengelolaan Lahan Gambut Yang Salah”. Siapa yang ingin belajar mengelola gambut yang baik untuk pertanian? Kesalahan yang sama dapat terjadi kalau mengeksploitasi gambut untuk energi karena kita akan mewariskan bencana kepada anak cucu kita. Tahu kenapa??